Catatan Mudik 2015 #1 – Berangkat Dengan KA Fajar Utama Yogya

Ini adalah catatan perjalanan mudik lebaran Idul Fitri 2015 lalu. Berangkat mudik dengan kereta api Fajar Utama dari stasiun Senen menuju Yogyakarta. Sudah lama mau nulis perjalanan ini, tapi belum sempat. Sekarang karena sudah kelamaan jadinya bingung mau mulai nulis darimana. *kretekin jari

Tapi ini adalah salah satu perjalanan spesial saya dimana untuk pertama kalinya saya mudik bareng sang istri (penganten baru cuyy), dan pertama kalinya juga naik kereta api Fajar Utama Yogyakarta.

Sudah lama gak pulang kampung naik kereta. Seingat saya, terakhir mudik naik kereta itu pas masih kuliah, kira-kira sudah 8 tahun tidak pernah naik kereta api. Berangkat tanggal 19 Juli 2015 dimana saat itu sudah masuk hari lebaran ketiga.

Memesan Tiket KereTa Fajar Utama Yogya via Online

Sebagai pekerja shift, sangatlah sulit mengatur jadwal sesuai dengan hari libur. Apalagi libur besar seperti hari raya lebaran. Terlebih lagi jika rekan shift satu tim semuanya muslim.

Akhirnya saya mengalah dengan rekan tim yang lain. Saya ambil libur dan cuti setelah lebaran saja. Jadi lebaran di Jakarta dulu, abis itu baru mudik.

Awalnya mau coba pakai pesawat, karena lebih cepat dan hemat waktu. Namun ketika cek harga dibeberapa penyedia tiket online seperti tiket.com dan traveloka, harga tiket meroket tajam (ya iyalahh lebaran..). Sangat sulit dapet tiket murah pas lebaran gini, apalagi kalo ordernya dadakan.

Akhirnya saya coba buka web KAI untuk mencoba peruntungan.  Agak pesimis sebenarnya karena kereta adalah transportasi favorit para pemudik. Tiket pasti akan habis dari beberapa bulan sebelum lebaran.

Klaten adalah kota tujuan mudik saya. Biasanya kalo mudik, saya ambil kereta yang ke arah Solo yaitu Kereta Api Senja Utama Solo. Dengan kereta tersebut, saya bisa turun di stasiun Klaten. Namun setelah saya cek, tiket sudah ludes habis.

Kemungkinan tiket yang bisa diambil hanyalah Kereta Api Fajar Utama Yogya dimana pemberhentian terakhirnya adalah Yogyakarta. Untuk sampai ke kota Klaten, saya harus nyambung transportasi lain lagi.

Saat itu juga saya berpikir keras untuk memilih, antara pakai pesawat atau KA Fajar Utama yang harus nyambung lagi dengan transportasi lain.

Akhirnya saya memilih menggunakan KA Fajar Utama. Scroll-scroll website KAI untuk order, tapi ternyata hanya tinggal 1 tiket untuk tanggal 19 Juli. *mulai putus asa

Entah kenapa, ada bisikan-bisikan ditelinga untuk refresh halaman di website tersebut. Setelah saya refresh beberapa kali, “voilaaa!” ternyata ada space kosong 3 kursi.

Ternyata website KAI cukup real time. Jika ada yang cancel order tiket, data ketersedian tiket langsung update. Maklumlah, saya suka “underestimate” jika menyangkut pelayanan publik termasuk Kereta Api.

Saya langsung coba pesan, tapi kemudian saya berpikir, kemungkinan ini space kursi sisaan. Bisa aja saya order 2 tiket yang nomor kursinya terpisah. Sembilan jam perjalanan di kereta tapi pisah tempat duduk itu agak malesin juga rasanya.

Kemudian saya coba telpon istri untuk jelasin kondisinya dan apakah mau pisah tempat duduk, “Yaudah, mau gimana lagi, daripada gak mudik, gak apa-apa pisah tempat duduk” sahutnya ditelpon.

Dengan pasrah saya coba klik dan order tiket tersebut. Setelah dapat notifikasi pemesanan via email, hati saya kemudian berubah gembira. Ternyata saya dapat 2 tiket dengan tempat duduk yang tidak terpisah. Alhamdulillah.

mudik_tiket_kereta_api_fajar_utama_yogyakarta
Email notifikasi tiket dari KAI

Suasana di Dalam Kereta KA Fajar Utama

Saya akui manajemen KAI saat ini sudah cukup baik. Saya coba bandingkan dengan pengalaman terakhir saya naik Kereta sungguh pemandangan yang jauh berbeda. Mulai dari kondisi stasiun yang bersih, bebas dari pedagang dan suasana dalam kereta yang nyaman.

Pengantar tidak boleh diperkenankan masuk. Penumpang wajib menunjukkan KTP atau identitas lain untuk masuk ke peron.

Saya berangkat subuh dini hari. Diantar oleh adik ipar saya ke stasiun Senen. Walaupun sudah masuk hari ke 3 lebaran, tapi masih banyak pemudik yang ingin berangkat.

Kereta Fajar Utama sudah standby di sana. Saya dan istri langsung bergegas masuk untuk mencari no. tempat duduk. Suasana masih sepi, belum banyak penumpang naik. AC yang cukup dingin membuat saya belum bisa melepas jaket tebal ini.

_kereta_api_fajar_utama_yogyakarta
Suasana KA Fajar Utama yang ramai tapi nyaman

Tidak seperti dulu, kereta bisnis ini sekarang dilengkapi AC. Kalo tidak salah dalam 1 gerbong bisa terdapat 4-5 AC. Jadi benar-benar cukup dingin.

Tidak hanya itu, di bawah kaca jendela, sekarang ada colokan listrik. Hmmm, bener-bener membantu sekali buat nge-cash HP kalo lowbat.

Beberapa penumpang nampaknya kedinginan. Ada bapak-bapak yang akhirnya menyapa petugas kereta dengan maksud untuk meminta mengurangi temperatur AC nya.

Ini adalah pertama kalinya saya naik kereta pagi hari. Dulu naik kereta selalu malam hari. Cuma tidur dan tiba-tiba udah sampe.

Pas berangkat pagi pake KA Fajar Utama ini, saya jadi bisa nikmatin pemandangan pagi hari lewat jendela.

Di sebelah kiri belakang saya terdapat 2 penumpang bule wanita. Dimana keduanya bertemu pertama kali di dalam kereta ini. Nampaknya mereka berdua sangat senang karena jadi ada temen ngobrol dan gak menyangka bisa duduk bersebelahan sesama traveler asing.

Saya coba menguping, sepertinya mereka saling sharing pengalaman selama traveling di Indonesia. Salah satu bule saya lihat antusias membaca buku tebal yang berisi tentang “exploring Indonesia”

Disitu kemudian saya merasa bangga, bahwa ternyata Indonesia sudah cukup dikenal luas. Sampe ada yang bikin buku setebal skripsi itu hanya untuk membahas seluk beluk traveling Indonesia.

Terdampar di Yogyakarta

Sampai di Yogya sekitar pukul 2 siang. Rencananya mau lanjut ke Klaten pake kereta Prameks (Prambanan Ekxpres). Tapi sialnya saya kurang googling masalah prameks. Saya kira kereta ini seperti commuterline di Jakarta. Tiketnya mudah dan keretanya banyak.

Prameks ini kereta penghubung dari Yogyakarta ke Solo. Daripada naik taksi yang gak pake argo, atau pake TransJogja, kebanyakan warga lebih memilih Prameks.

Sialnya lagi, dihari ke 3 lebaran itu sangat padet penumpang. Kebanyakan mau halal-bihalal atau silaturahmi.

Tiket Prameks bisa didapatkan pada jam-jam tertentu. Kebetulan saya mengincar tiket yang jam 5. Tapi ternyata mau ngantri aja ada jadwalnya, ini yang agak aneh. Antri tiket dimulai pukul 4 sore.

Ada waktu senggang 2 jam, perut yang laper akhirnya memaksa kami untuk cari makanan. Setelah googling akhirnya nemu Soto Sulung Stasiun Tugu.

soto sulung tugu yogyakarta
Image by Yogyes.com

Enak sih, cuma porsinya dikit. Nasinya kayak nasi kucing gitu. Dagingnya sedikit, tapi cukup empuk. Lumayan buat ganjal perut sehabis kelaperan perjalanan 9 jam.

soto-tugu-yogyakarta
Sangking dikitnya daging, jadi seperti makan nasi pake kuah.

Yogyakarta berubah menjadi YogyaJakarta

“Duh, Malioboro padet banget mas.., sampean beruntung dapet taksi saya. Hari ini jarang ada taksi mau masuk Malioboro. Macetnya nggilani! (bikin gila)” ucap sopir taksi yang saya tumpangi.

Ya, akhirnya saya dan istri naik taksi juga. Setelah antri tiket prameks 3 jam, saya gak dapet apa-apa selain capek, laper dan ngantuk.

Di awal tadi saya cukup memuji kinerja KAI. Nyatanya pas di lapangan, terlihat bahwa beda wilayah beda juga manajemennya.

Gak hanya saya, banyak penumpang yang kecewa dengan antrian tiket Prameks. Di awal waktu antrian, manajemen menjamin tiket prameks masih ada, tapi gak sampai 5 menit antrian dibuka, tiket langsung  ludes. *geleng2

Rencananya mau mandiri dan gak repotin orang tua. Akhirnya nyerah *kibarin kaos dalem bendera putih

Akhirnya saya telpon bapak saya, dan beliau mau jemput di daerah bandara Adisucipto. Kami jalan sedikit ke arah Malioboro untuk cari bus atau taksi, ternyata suasana padat luar biasa.

Lalu lintas di sekitar Malioboro nampaknya ditutup untuk kendaraan. Jadinya susah banget untuk naik TransYogya atau taksi.

Rejeki anak soleh emang gak kemana, akhirnya ada taksi yang berhenti menurunkan penumpang tepat di depan saya. Langsung aja disruduk disrobot istri saya untuk naik.

Istri saya mulai me-nego harga ala emak-emak untuk sampai ke Bandara Adisucipto, tapi ternyata supir taksi ini jujur, dia gak nembak harga dan tetap pakai Argo. Alhamdulillah.

“Yogya kalo lebaran jadi YogyaJakarta mas, penuh! Saya paling males ke Malioboro, ini tadi nganter ke Malioboro karena terpaksa” ucap sang supir.

Supir ini cukup ramah, sepanjang perjalanan banyak cerita tentang Yogya dan saya dibawa melalui jalan-jalan tikus.

Bukan untuk membuat biaya argo “bengkak”, tapi untuk mencari jalan tercepat dan terhindar dari macetnya Yogya malam itu. Akhlak pak supir ini sungguh baik, gak banyak supir taksi kayak gini, apalagi di Jakarta.

Gak sampe 30 menit akhirnya kami sampai di Bandara. Biaya argo sekitar 50 ribuan, saya bayar dengan tambahan tips. Sembari mendoakan beliau di dalam hati agar selalu sukses. Karena saya merasa terbantu akibat parahnya lalu lintas di Yogya malam itu.

Orang tua saya juga akhirnya datang. Dalam perjalanan menuju Klaten,  beliau dan saya  saling cerita tentang padetnya Yogya malem itu. “Macetnya panjangg, jalan Yogya – Solo penuh plat B” ucap bapak saya.

Sekitar 45 menit akhirnya sampai di Klaten. Badan sudah pegel-pegel karena bawa ransel yg segede gaban. Istri juga nampak lelah. Mudah-mudahan dia gak nyesel dengan pengalaman mudik pertama kalinya itu.

Bersambung ke: Catatan Mudik 2015 #2 – Gowes Pagi & Halal Bi Halal di Merapi Resto

Advertisements

4 comments

  1. Begitulah kalo mudik yo mas .. . Saya ke biasa mudik ke Sumbar, ga ada kereta jadi alternatif, cuman bisa pake pesawat karena bus dan kapal butuh waktu lama sampai di tujuan .. Hikzz
    Semoga jadi ya rencana pemerintah bikin kareta antar pulau .. . heu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s